Plesk adalah panel kontrol hosting yang dikembangkan oleh WebPros, perusahaan yang juga menaungi cPanel. Plesk berjalan di Linux maupun Windows dan dikenal dengan antarmuka yang rapi serta alat bawaan yang kuat untuk WordPress. Artikel ini memperkenalkan Plesk dan berbagi tips mengelola situs di dalamnya.
Konsep dasar: langganan, domain, dan pengguna
Di Plesk, satu langganan (subscription) adalah wadah sumber daya: kuota disk, jumlah domain, database, dan akun email. Di dalam satu langganan Anda bisa memiliki beberapa domain, subdomain, dan alias domain. Struktur ini membuat Plesk nyaman untuk mengelola banyak situs sekaligus.
Plesk juga mengenal peran yang berbeda: administrator server, reseller, pelanggan, dan pengguna tambahan. Anda bisa membuat akun pengguna tambahan dengan hak terbatas, misalnya untuk developer yang hanya perlu mengakses file situs tertentu.
Menu penting yang perlu dikenali
- Websites & Domains: pusat pengelolaan domain, pengaturan hosting, PHP, DNS, SSL, dan file.
- Mail: membuat akun email, forwarder, dan auto-reply.
- Databases: membuat database MySQL/MariaDB dan mengaksesnya lewat phpMyAdmin.
- File Manager: mengunggah, mengedit, dan mengatur izin file langsung dari browser.
- WordPress: WordPress Toolkit untuk memasang dan mengelola situs WordPress.
- Backup Manager: membuat, menjadwalkan, dan memulihkan backup.
Tips 1: Manfaatkan WordPress Toolkit
WordPress Toolkit memudahkan instalasi WordPress dalam beberapa klik. Selain itu, alat ini bisa memindai instalasi WordPress yang ada, menampilkan status pembaruan, menerapkan langkah-langkah hardening keamanan, dan (tergantung lisensi) membuat salinan staging serta sinkronisasi. Jalankan pemeriksaan keamanannya dan terapkan rekomendasi yang tidak mengganggu fungsi situs Anda.
Tips 2: Atur versi dan handler PHP per domain
Di PHP Settings setiap domain, Anda bisa memilih versi PHP dan handler-nya, misalnya PHP-FPM yang dilayani nginx atau Apache. Gunakan versi PHP yang masih didukung oleh proyek PHP. Anda juga bisa mengatur nilai seperti memory_limit dan upload_max_filesize sesuai kebutuhan aplikasi, dalam batas yang ditentukan penyedia.
Tips 3: Pasang SSL gratis
Lewat ekstensi SSL It!, Anda bisa memasang sertifikat Let’s Encrypt gratis untuk domain, www, dan webmail, lalu mengaktifkan pengalihan permanen dari HTTP ke HTTPS. Plesk akan memperbarui sertifikat secara otomatis.
Tips 4: Kelola DNS dengan hati-hati
Jika domain memakai DNS Plesk, record dikelola di DNS Settings. Sebelum mengubah record penting seperti A, MX, atau TXT (SPF, DKIM, DMARC), catat nilai lamanya. Perubahan DNS butuh waktu untuk menyebar, jadi rencanakan perubahan di luar jam sibuk.
Tips 5: Email yang terkirim dengan baik
Agar email dari domain Anda tidak masuk spam, pastikan SPF, DKIM, dan DMARC dikonfigurasi. Plesk dapat membuat record DKIM otomatis jika fitur ini diaktifkan di pengaturan email domain.
Tips 6: Jadwalkan backup
Di Backup Manager, buat jadwal backup otomatis dan, bila tersedia, kirimkan ke penyimpanan jarak jauh. Simpan beberapa versi agar Anda bisa kembali ke titik sebelum masalah terjadi.
Tips 7: Gunakan Git, Scheduled Tasks, dan Logs
- Git: hubungkan repositori untuk menerapkan kode secara otomatis tanpa mengunggah file manual.
- Scheduled Tasks: menjalankan cron job, misalnya untuk tugas terjadwal aplikasi.
- Logs: lihat log akses dan error per domain secara langsung saat menelusuri masalah.
Tips 8: Pantau sumber daya
Perhatikan pemakaian disk dan trafik di halaman statistik langganan. Folder backup lokal dan kotak surat besar sering menjadi penyebab kuota cepat penuh.
cPanel atau Plesk?
Keduanya panel yang matang. cPanel sangat umum di shared hosting Linux, sedangkan Plesk unggul dalam pengelolaan banyak domain per langganan, dukungan Windows, dan alat WordPress yang terintegrasi. Pilihan terbaik adalah panel yang paling nyaman untuk alur kerja Anda.
Kudo menyediakan paket hosting dan reseller berbasis Plesk maupun cPanel. Lihat pilihannya di toko.kudo.biz.id.